Suatu sore, Ibu Pengasuh dapur bikin pisang goreng coklat lumer yang aromanya mampu mengundang warga satu RT untuk datang tanpa undangan. Pisang goreng itu ditaruh di meja dapur supaya agak dingin sebelum dibagikan ke anak-anak.
Sebelum pergi, Ibu Pengasuh memberi peringatan keras, "Siapa yang makan sebelum waktunya, siap-siap nyuci piring seminggu penuh!" Anak-anak langsung mengangguk kompak. Terlihat sholeh, terlihat taat, dan terlihat sangat mencurigakan.
Namun lima menit kemudian terjadi tragedi nasional. Saat Ibu Pengasuh kembali ke dapur, piring pisang goreng sudah kosong melompong. Tidak ada tersangka. Tidak ada saksi. Hanya ada beberapa remah coklat yang berserakan seperti TKP film kriminal. Sidang darurat pun segera digelar.
Semua anak dikumpulkan di ruang tamu. Satu per satu ditanya. Semua memasang wajah polos tingkat dewa. Tidak ada yang mengaku. Bahkan ada yang terlihat sedih seolah ikut kehilangan pisang goreng padahal kemungkinan besar pelakunya duduk di barisan depan. š¤£
Tapi Ibu Pengasuh bukan orang baru dalam dunia investigasi camilan. Beliau memperhatikan salah satu anak yang dari tadi terlalu tenang. Setelah didekati, kasus langsung terpecahkan. Di pipinya masih menempel coklat dari ujung hidung sampai hampir ke telinga. Lebih parah lagi, di saku bajunya terselip pisang goreng setengah gigit yang nyangkut di resleting! šš
Saat semua bukti ditunjukkan, anak itu cuma tersenyum kaku lalu berkata, "Bu, ini bukan mencuri. Saya lagi penelitian ilmiah. Saya mau membuktikan apakah pisang goreng bisa menghilang lebih cepat daripada uang jajan." š¤£š
Hasil penelitian akhirnya dinyatakan berhasil. Pisang goreng memang hilang lebih cepat. Sedangkan penelitinya resmi mendapat tugas tambahan mencuci piring sambil menjadi bahan tertawaan seisi panti selama seminggu penuh. šš½ļø